Tandem Sri Sugiyanti/Ni’mal Magfiroh perlu tingkatkan sinkronisasi kayuhan

Jakarta,  (ANTARA News )- Pasangan atlet paracycling Sri Sugiyanti dan Ni’mal Magfiroh yang  harus puas dengan medali perak lagi di Asian Track Championship 2019 di Jakarta, Sabtu, mengaku masih harus banyak berlatih untuk menemukan ritme kayuhan yang pas ketika balapan.

Pasalnya, Sri yang mengendarai sepeda di belakang Ni’mal sebagai pilot, masih sering kesulitan mengimbangi kekuatan kayuhan pedal si pilot.

“Saya ingin latihan saja untuk memperbaiki semua, susah untuk menyingkronkan, menyesuaikan putaran itu susah, masih keberatan,” kata Sri usai menyelesaikan balapan nomor 1km Time Trial Paracyling B putri ACT 2019, Sabtu.

Sri dan Ni’mal dipasangkan pada April tahun lalu untuk Asian Para Games 2018.

Dengan waktu latihan kurang dari satu tahun, mereka sudah bisa menyumbangkan medali perak bagi Indonesia di pesta olahraga se-Asia itu.

Setelah APG 2018, NPC Paracyling melakukan jeda latihan, sehingga Sri dan Ni’mal, yang diturunkan pada Asian Track Championship 2019 ini hanya memiliki waktu tiga minggu latihan setelah libur dua bulan.

“Karena latihannya kurang, mungkin kalau kemarin liburan saya tetap lanjut latihan mungkin masih bisa, nggak terlalu berat untuk mengejar,” kata Sri.

Selain itu, sebagai atlet dengan keterbatasan visual, Sri mengaku masih harus belajar tentang gaya berdiri yang bagus ketika start selain meningkatkan ketrampilan mengayuhnya.

“Di awal latihan dulu saya lebih kuat, tapi seiring waktu kita latihan dia juga bisa ikuti saya, ” kata Ni’mal

Ni’mal mengatakan komunikasi menjadi salah satu faktor penting ketika balapan karena Sri merupakan atlet paracycling dengan tingkat kebutaan total, berbeda dengan atlet dengan gangguan pandangan (low vision) yang jarak pandangnya terbatas.

“Jadi saya harus tetap ikuti arahan pilotnya… kalau dia bilang nambah berarti puteran saya turun,” kata Sri.

Baca juga: Sri Sugiyanti/Ni’mal Magfiroh kembali sumbang medali perak ATC 2019

Fadilah Umar, sang pelatih pun mengakui masih banyak teknik yang perlu diajarkan untuk memantapkan kayuhan Sri.

“Kalau latihan terus saya yakin kami bisa mengejar waktu mereka (Malaysia), selisihnya satu detik,” kata Umar.

Sementara timnas paracycling Malaysia meneruskan latihan usai Asian Para Games 2018, NPC paracycling Indonesia justru rehat selama dua bulan terakhir ini.

“Ke depan itu jadi PR kita,” kata Umar.

Baca juga: Kenalkan “senjata” baru M. Fadli di trek velodrome

Selain faktor latihan, faktor sepeda juga memiliki pengaruh terhadap catatan waktu atlet.

Sri dan Ni’mal masih menggunakan sepeda balap dari material alumunium, sementara pasangan Malaysia sudah menggunakan sepeda yang terbuat dari serat karbon.

“Di balap sepeda itu jenis sepeda sangat berpengaruh juga, kita akui itu tapi yang faktor utama yang menentukan adalah atletnya,” kata Umar.

Saat ini, kata Umar, NPC paracycling Indonesia sedang menunggu instruksi dari Kemenpora untuk memulai pelatnas yang dijadwalkan akan berlangsung selama satu tahun sebagai persiapan ke ASEAN Paragames di Filipina pada Januari 2020.

Baca juga: M. Fadli diundang berlatih di markas federasi balap dunia
 

Pewarta: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019