Pembangunan Stadion Utama Sumbar

Foto udara aktivitas pembangunan Stadion Utama Sumatera Barat, di Lubuk Alung, Padangpariaman, Jumat (11/1/2019). Pemprov Sumatera Barat menargetkan pembangunan stadion dengan anggaran Rp170 miliar itu tuntas pada tahun 2020 dan bisa menampung sebanyak 45 ribu penonton. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.

KONI Kudus siapkan tali asih peraih medali Rp6 miliar

Kudus (ANTARA News) – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, segera mencairkan dana tali asih sebesar Rp6 miliar untuk para atlet peraih medali dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi Jateng di Surakarta.

“Anggaran sebesar Rp6 miliar bersumber dari APBD Kudus 2019,” kata Ketua KONI Kudus Antoni Alfin di Kudus, Jumat.

Besarnya tali asih untuk masing-masing atlet, kata dia, disesuikan dengan medali yang diperoleh.

Misalnya, kata dia, untuk peraih medali emas bakal mendapatkan tali asih sebesar Rp50 juta.

Sementara untuk atlet peraih perak dan perunggu nilai tali asihnya disesuaikan karena prioritas memang untuk peraih medali emas.

Ia mencatat ada sebanyak 69 atlet peraih medali emas, ditambah satu medali emas dari atlet difabel sehingga ada sebanyak 70 torehan medali emas.

Sementara untuk cabang olahraga beregu yang meraih medali emas juga akan mendapatkan tali asih dengan nilai berbeda.

“Contoh, cabang olahraga basket dengan jumlah atlet yang mencapai belasan orang bisa mendapatkan tali asih sebesar Rp120 juta,” ujarnya.

Untuk pelatih dan official, katanya, tetap akan mendapatkan tali asih, namun jumlahnya disesuaikan dengan ketersediaan anggarannya.

Rencana pencairan tali asih diberikan pada tanggal 19 Januari 2019 mendatang.

“Tali asih akan ditransfer ke rekening tabungan masing-masing atlet dan tidak dipotong pajak karena akan ditanggung KONI,” ujarnya.

Ia berharap prestasi olahraga di Kabupaten Kudus bisa meningkat menjadi lebih baik dengan mamksimalkan pengembangan atlet lokal Kabupaten Kudus.

Selain berupaya memanfaatkan atlet lokal, KONI Kudus dengan kepengurusan yang baru juga akan mengevaluasi keberadaan 34 cabang olahraga apakah masih perlu dipertahankan atau justru akan ada penambahan cabor baru.

Baca juga: PB Djarum raih KONI Award

Baca juga: Pemkot Medan berikan tali asih atlet berprestasi
 

Pewarta:
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sri Sugiyanti-Nimal Magfiroh raih perak

Sri Sugiyanti-Nimal Magfiroh rain perak

Pasangan atlet para-sepeda Sri Sugiyanti (kanan) dan Ni’mal Magfiroh (kiri) menunjukan medali perak usai final nomor 3000 meter Pursuit Individu B Putri Paracycling pada ajang Asian Track Championship 2019 di Jakarta International Velodrome, Jakarta, Jumat (11/1/2019). Sri bersama pilotnya Ni’mal meraih medali perak usai mencatatkan waktu empat menit 7,889 detik sedangkan emas diraih pasangan atlet Malaysia Nur Azlia dan Nurul Suhada Zainal yang mencatatkan waktu empat menit 2,918 detik. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.

Serena masih diperhitungkan di Australia Terbuka

Jakarta, (ANTARA News) – Petenis AS Serena Williams sedang hamil delapan minggu saat menjuarai Australia Terbuka 2017 dan meski ia  baru saja gagal menambahkan gelar pada deretan 23 gelar juara grand slamnya, ia ternyata masih menjadi sosok yang diperhitungkan di Australia Terbuka 2019.

Petenis berusia 37 tahun itu istirahat setahun setelah melahirkan putri yang diberi nama Alexis Olympia pada September lalu, sebelum kemudian tampil lagi dan mencapai di Wimbledon dan AS Terbuka.

Di London,   Serena harus mengakui keunggulan petenis Jerman Angelique Kerber, sementara di hadapan pendukung sendiri di New York, ia dikalahkan petenis Jepang yang sedang bersinar terang, Naomi Osaka.

Kekalahan tersebut membuat Serena gagal menyamai rekor Margaret Court yang telah mengumpulkan 24 tropi juara turnamen Grand Slam dan ia akan kembali berusaha pada turnamen Australia Terbuka yang akan berlangsung 14-27 Januari mendatang.

Disaat Serena meraih kemenangan atas kakaknya sendiri Venus di final dua tahun lalu, tahun ini tantangan bagi Serena diprediksi datang dari banyak pemain lain yang tidak kalah tangguh.

Mantan petenis nomor satu dunia Chris Evert menggambarkan bahwa adalah hal yang hampir mustahil untuk memprediksi juara tunggal putri di Australia Terbuka 2019, mengingat dalam delapan tahun terakhir, sang juara berasal dari petenis berbeda.

Petenis nomor satu dunia saat ini, Simone Halep, sedang bergelut dengan cedera punggung.

Halep dipastikan tidak akan didampingi pelatih untuk pertama kali sejak beberapa bulan terakhir setelah Darren Cahill mengundurkan diri dengan alasan keluarga. Akibatnya, Halep dipecundangi petenis non-unggulan Ashleigh Barty asal Australia di babak kedua Sydney International tahun lalu.

Petenis Romania itu, yang dikalahkan Caroline Wozniacki di final Australia Terbuka 2018, bisa jadi mengalami kemunduran, tapi tetap dalam kondisi siap bertanding, meski diakui bahwa ia sebenarnya tidak banyak berharap di turnamen Grand Slam pertama tahun ini.

“Saya kira saya bermain cukup bagus. Saya tidak lagi merasakan sakit. Saya gembira bahwa itu pertanda baik,” kata Halep usai kekalahan dari Barty.

Gelar Australia Terbuka kedua bagi Kerber, yang mengalahkan Serena di final 2016, akan menjadi hadiah ulang tahun yang sempurna bagi petenis nomor dua dunia itu, yang berusia 31 tahun pada minggu pertama turnamen.

Kerber tampil mengesankan di Piala Hopman dengan mempertahankan rekor kemenangan 100 persen, meski di final Jerman akhirnya kalah dari Swiss yang diperkuat Roger Federer.
    
Juara bertahan Wozniacki saat ini sedang berjuang melawan penyakit radang sendi, tapi petenis asal Denmark berusia 28 tahun itu masih tetap menjadi salah satu unggulan, demikian pula halnya dengan Naomi Osaka (21) yang dalam mempecundangi Serena di final AS Terbuka 2018 di New York.

Petenis Belarusia Aryna Sabalenka, muncul sebagai kuda hitam dan banyak pengamat, termasuk Evert, yakin bahwa petenis berusia 20 tahun itu akan membuat kejutan di sepanjang 2019.

Sabalenka masuk dalam daftar peringkat WTA tahun lalu setelah meraih dua gelar juara di turnamen di Melbourne dan Shenzhen.

“Saya tidak punya alasan untuk tidak yakin bahwa Sabalenka tidak akan memenangi lebih dari satu gelar Grand Slam. Mengapa? Saya melihat dua hal. Ia melihat semangat dan keberanian darinya,” kata Evert yang telah meraih 18 trofi Grand Slam pada masa jayanya.

Baca juga: Serena Williams konfirmasi kembali tampil di Australia Terbuka

Pewarta: Atman Ahdiat
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia cetak sejarah emas junior track Asia 2019

Jakarta (ANTARA News) – Atlet balap sepeda junior Indonesia Angga Dwi Wahyu Prahesta mencetak sejarah perlombaan disiplin track dengan menyabet medali emas dalam Kejuaraan Track Asia 2019 yang berlangsung di Jakarta International Velodrome di Jakarta, Kamis malam.

Angga meraih medali emas pada nomor scratch junior putra dan menungguli atlet India Venkappas Kengalagutti pada posisi kedua dan atlet Taiwan Chih Sheng Chang yang menempati posisi ketiga.

“Persiapan saya hanya dua pekan sejak pertengahan Desember 2018. Saya tentu sangat bangga sekali bisa mendapatkan medali emas karena perlombaan sangat ketat,” kata atlet berusia 17 tahun itu.

Angga mengaku dua lap terakhir menjadi momentum untuk menyabet medali emas karena atlet-atlet lain Asia sudah kesulitan untuk melewatinya.

“Target awal saya adalah medali perunggu karena ini perlombaan pertama tingkat Asia bagi saya,” katanya.

Atlet kelahiran Lumajang, Jawa Timur itu mengaku telah berlatih di India selama tiga pekan pada Desember 2019 sebelum kembali ke Indonesia pada awal Januari.

“Saya turun pada nomor point race, omnium, dan scartch pada perlombaan Asia ini,” kata atlet yang memulai karir sebagai atlet disiplin sepeda gunung dan road race itu.

Pelatih balap sepeda nasional Dadang Haris Purnomo mengaku semula tidak mengunggulkan Angga untuk menyabet medali emas karena perlombaan Asia di Velodrome menjadi ajang penambah pengalaman bagi atlet-atlet junior.

“Saya sempat tidak percaya karena hasil yang diraih Angga. Itu adalah pembuktian pembinaan PB ISSI yang berhasil mencari atlet-atlet penerus,” kata Dadang.

Selain Kejuaraan Track Asia 2019, PB ISSI akan menurunkan Angga pada sejumlah perlombaan lain tingkat Asia. 

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Berbekal “senjata” baru, M Fadli raih emas dan rekor Asia

Jakarta (ANTARA News) – Pebalap sepeda track Indonesia M. Fadli Imamuddin menggunakan “senjata” baru yang membantu dia merebut medali emas nomor 4.000 m individual pursuit putra C4-C5 sekaligus memecahkan rekor pribadi di tingkat Asia di kejuaraan Asian Track Championship di Jakarta, Kamis.

“Saya mempunyai senjata baru yaitu Look R96 yang kastanya jauh dari sepeda terakhir yang saya pakai,” ungkap Fadli usai menerima medali emas di Jakarta International Velodrome, Kamis.

Sepeda buatan Prancis itu memiliki rangka yang terbuat dari serat karbon dan didukung dengan teknologi paling terkini dalam balap sepeda track.
  Rangka sepeda balap track Look R96 (Antaranews/Aditya E.S. Wicaksono)

Dengan sepeda itu, Fadli mampu memperbaiki catatan waktunya dari kisaran waktu 5 menit 3 detik yang dia ciptakan di Asian Para Games 2018 ke angka 4 menit 58,185 detik pada babak kualifikasi Asian Track Championship.

Dengan waktu tersebut Fadli juga memecahkan rekor waktu terbaiknya di tingkat Asia di nomor 4.000 m individu pursuit putra C4-C5 cabang para-sepeda.

“Saya mendapat perbaikan (waktu) terlebih pada saat pemusatan latihan di dua bulan terakhir ini. Ini adalah lanjutan dari Asian Para Games, jadi memang tidak ada jeda,” kata Fadli.

“Lima detik dalam waktu dua bulan saya rasa saya cukup senang dengan hasil yang dimiliki,” kata dia.

M.Fadli keluar sebagai yang tercepat di babak final perebutan medali emas dengan catatan waktu resmi 4 menit 59,601 detik dan setelah difaktorkan menjadi 4 menit 56,965 detik menyingkirkan pebalap sepeda Iran Mahdi Mohammadi di peringkat dua (5:23.920).

Selain menggunakna sepeda baru, M. Fadli kali ini menjalani latihan bersama dua pelatih sekaligus, yaitu pelatih dari PB ISSI dan pelatih dari NPC Para-Sepeda.

“Alhamdulillah pada kejuaraan ini saya mendapatkan perbaikan dibandingkan hasil Asian Para Games kemarin karena dua pelatih berkolaborasi,” kata Fadli.

Sementara itu, pebalap Indonesia lainnya Sufyan Saori meraih medali perunggu (5:13.951) mengalahkan pebalap Malaysia Zuhairi Ahmad Tarmizi (5:23.920) di final perebutan tempat ketiga.

Baca juga: M. Fadli raih medali emas individual pursuit putra ATC
Baca juga: Kejuaraan ATC 2019 Diharapkan Perkuat Solidaritas Antar Atlet

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019