Ratusan karyawan Standard Chartered ramaikan Belt and Road Relay

Jakarta (ANTARA) – Sebanyak kurang lebih 200 karyawan karyawan Bank Standard Chartered Indonesia turut berpartisipasi dalam kegiatan lari bertajuk Belt and Road Relay pada Minggu (10/3).

Belt and Road Relay merupakan kegiatan lari pertama di dunia yang diselenggarakan di negara-negara yang dilalui oleh kebijakan Belt and Road.

Kegiatan tersebut digelar untuk menunjukkan komitmen Standard Chartered dalam mendukung inisiatif Satu Sabuk, Satu Jalan atau One Belt One Road (OBOR) yang diluncurkan pemerintah Cina pada Oktober 2013.

Kegiatan Belt and Road Relay telah dimulai di Hong Kong pada 17 Februari 2019 dan nantinya akan berakhir di China pada 11 Mei 2019, setelah berakhirnya acara Belt and Road Forum.

Sebanyak delapan karyawan bank dari kelompok negara wilayah operasional Standard Chartered, yakni Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat, berlari di 44 negara yang dilewati jalur Belt and Road dalam kurun waktu 90 hari.

Para pelari itu, antara lain Jack Missin dari Inggris, Lynsey McGarry dari Amerika Serikat, Danny Chang dari Malaysia, Therese Neo dari Singapura, Henry Xiao Qi Li dari Cina, Serena Leung dari Hong Kong, Herman Kambugu dari Uganda dan Dina Tarek Elessawy dari Dubai.

“Di Indonesia, kedelapan pelari itu berlari pada Minggu (10/3) dengan jarak 10 kilometer. Sekitar 200 karyawan Standard Chartered juga ikut meramaikan acara itu,” kata Chief Executive Officer Standard Chartered Bank Indonesia Rino Donosepoetro dalam siaran pers yang diterima Antara, Minggu.

Dia menuturkan ratusan karyawan bank Standard Chartered turut meramaikan acara tersebut dengan berlari menempuh tiga jarak yang berbeda-beda, yaitu 2,5 kilometer, 5 kilometer dan 10 kilometer.

“Melalui Belt and Road Relay, kami ingin turut serta mewujudkan dampak positif dari inisiatif One Belt One Road itu kepada dunia usaha serta masyarakat global,” tutur Rino.

Lebih lanjut, dia menambahkan melalui kegiatan tersebut, pihaknya ingin menarik lebih banyak lagi investasi asing untuk masuk ke Indonesia dengan memanfaatkan jaringan internasional yang dimiliki Standard Chartered di lebih dari 60 negara di dunia, termasuk dari Cina.

Menurut data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sambung dia, investasi Cina ke Indonesia pada 2018 mencapai 2,4 miliar dolar AS dan menduduki peringkat ketiga setelah Singapura dan Jepang.

“Kami memperkirakan jumlah tersebut akan terus meningkat seiring dengan inisiatif pemerintah untuk memberikan berbagai insentif bagi investor asing,” ungkap Rino.

Pewarta: Rr. Cornea Khairany
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019